Thursday, 10 April 2014

L.I.F.E and D.E.A.T.H

Dan pulang ku nanti bukan lagi disambut dia,
Tapi dengan hanya sebuah pusara,
Yang pasti menyaksikan gugurnya air mata,
kerana tak mampu lagi memimpin tangannya,
juga tidak lagi mampu mendengar suara,
atau melayan segala cerita dia..
kerana dia telahpun tiada,
kerana telah dijemput Dia,
untuk melengkapkan cerita seorang manusia,
dengan tercabutnya suatu nyawa,
dan doaku moga bahagia di sana,
semoga nanti kita dapat bersama,
di syurga yang tentunya sempurna.

dan inilah cerita pelajar luar negara,
yang hanya mampu menangis dan berdoa saat kehilangan insan tercinta.

(dan air mata pun bercucuran buat kesekian kalinya)
............................................................................................
Perit rasanya, tapi digagahkan juga membiarkan jari meluahkan emosi di dada, semoga beroleh redha dengan berkongsi sebuah cerita.. cerita lara yang setiap kita pasti merasa.. sebab janjinya..

كُلُّ نَفۡسٍ۬ ذَآٮِٕقَةُ ٱلۡمَوۡتِ‌ۖ 
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati )

while a part of my brain is in excruciating pain at the thought of death,
another is busy asking.. what is death exactly?
is it the moment when one stops breathing?
or is it when one's heart stops beating?
or is it when the brain stops working?
or is it just a term when life ends..
if that's so,
then what are the boundaries between life and death?
for life itself is still a definition yet to be discovered,
since that would be too hard to decipher,
so they came up with a medical answer,
saying that death is when brain activity ceases to exist,
that's the moment when someone can be called 'deceased'
and they can finally rest in peace.

mmmmmmmmmm.. 

tapi hati masih lagi tertanya-tanya, mati itu apa sebenarnya?
adakah semudah yang dikata..

sedangkan satu-satunya perkara yang pasti dalam hidup manusia adalah M.A.T.I,
bukan dapat ijazah, dapat kerja atau beristeri,
tapi mati itulah yang pasti,
yang mendefinisikan manusia itu sendiri,
kerana tiada manusia yang kekal abadi,
maka, MATI itulah kesempurnaan manusiawi.
dan mereka yang cuba lari daripada kematian,
seolah lari daripada kesempurnaan.
because death completes a man.

soalnya sekarang bersediakan kita untuk mati? Sudah cukupkah bekalan kita untuk hidup di 'dunia' yang abadi? sebab syarat mati itu tak mengira bangsa, tak mengira usia. ada mereka yang mati pada usia tua, tapi ada juga yang mati muda, bahkan ada yang mati sebelum melihat dunia, sebab ajal itu ketetapan Dia. maka, soalan "bersediakah kita?" patut ditanya sepanjang masa.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Dia lah yang telah mentakdirkan adanya mati dan hidup (kamu) - untuk menguji dan menzahirkan keadaan kamu: siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya; dan Ia Maha Kuasa (membalas amal kamu), lagi Maha Pengampun, (bagi orang-orang yang bertaubat. ~ Al-Mulk: 2

Di dalam ayat ini, didahulukan menyebut mati sebelum hidup supaya orang akan ingat jalan yang bakal ditempuh sebelum orang berjalan, ingat akibat sebelum melangkah, Maka ingatlah mati sebelum kita hidup dengan gembiranya, sebab hidup kita bukan sekadar di dunia tapi yang lebih utama hanyalah sebagai jambatan ke negeri 'sana' di mana mati sebagai tolnya dan mati sudah semestinya bukanlah destinasi.
..................................................................................
(dan buku Reclaim your Heart dibuka)

"What relationship do I have with this world? I am in this world like a traveller who halts in the shade of a tree for a short time, and after taking some rest, resumes his journey leaving the tree behind" (Hadith Ahmad, Tirmidhi)

So let us ponder upon the metaphor of a traveler. What happens when you're travelling or you know that your stay is only temporary? When you're passing through a city for one night, how attached do you get to that place? If you know it's temporary, you'll be willing to stay at Motel 6. But would you like to live there? Probably not. Suppose your boss sent you to a new town to work on a limited project. Suppose he didn't tell you exactly when the project would end, but you knew you would be returning home, any day. How would you be in that town? Would you invest in massive amounts of properties and spend all your savings on expensive furniture and cars? Most likely not. No. You'd probably hesitate about buying any more than you need for a couple of days - because your boss could call you back any day. 

This is the mindset of a traveler. There is a natural detachment that comes with the realization that something is only temporary.

enough said...

......................................................................................


dan pengalaman hari ini mengajar aku suatu lagi perkara : 
untuk berharap dan bergantung hanya pada Dia,
sebab kalau kita harapkan insan untuk pulihkan perasaan, 
maka mungkin hancurlah harapan,
sebab insan itu tetap insan, yang lupanya tetap ada, 
yang tetap juga boleh ketawa saat kita berduka,
atau mungkin yang langsung tak endah apa yang kita rasa,
atau tak tahu pun situasi kita,
tapi tidaklah salah sesiapa kerana memang sifat manusia itu memang tidak  sempurna,
yang salah adalah mana letaknya 'attachment' kita.

We can't blame the laws of physics when a twig snaps because we leaned on it for support. The twig was never created to carry us in the first place. Our weight was only meant to be carried by God.

.........................................................................................

In loving memory of my grandmother who passed away on 9 Jamadil Akhir 1435, 
yang tak sempat melihat cucu perempuannya menjadi doktor.



No comments:

Post a Comment